Entah sudah berapa ratus ribu judul film
Indonesia dengan tema percintaan kalangan remaja berlatarkan sekolah,
jumlahnya banyak tapi yang berkesan buat saya masih bisa dihitung jari,
salah-satunya “Catatan Akhir Sekolah”-nya Hanung Bramantyo. Well, dengan template cerita yang biasanya begitu-begitu saja, wajar jika saya agak (sudah) jenuh dengan genre
yang satu ini. “Crazy Love” pun sebetulnya hanya sebuah pengulangan,
plot kisah-kasih-di-sekolah yang banyak ditemui di film-film sebelumnya
yang bertema sama, bahkan di FTV sekalipun. Cerita adalah masalah kedua
yang mengganggu saya, yang paling menggelikan adalah kenapa setiap film
seperti “Crazy Love” yang ber-setting di sekolahan ini, dunia
sekolah yang diciptakan jauh dari gambaran saya waktu sekolah dulu.
Paling mencolok sih soal seragam sekolah yang dipakai, dandanan
anak-anaknya “sembarangan”, kaya bukan mau ke sekolah. Biar artistik atau dibilang nga cupu? yah, kalau menurut saya sih jatuhnya malah fake, atau memang sekolah sekarang kaya gitu? Dulu, baju dikeluarin saja mesti ngumpet-ngumpet takut ketahuan guru killer,
baru bisa bebas jika sudah pulang sekolah. Film sekarang sepertinya
berlomba-lomba membuat lingkungan sekolah makin tidak terlihat seperti
sekolahan, hanya jadi background untuk numpang-nampang aktor-aktrisnya yang kece dengan seragamnya yang minta distrap
guru. Ketidakpedulian film kita tentang dunia sekolah yang apa-adanya
juga terlihat di “Crazy Love”, apa iya pakai dasinya seperti itu? apa
iya dengan seenaknya bisa keluarin baju setiap saat tanpa dimarahi
gurunya? Sekali lagi sekolah hanya jadi arena sirkus, mau tampak keren
tapi dunia sekolahnya malah bikin saya “menjauh”.
Terlepas dari ceritanya yang hasil
daur-ulang, comot sana-sini, klise, tapi bukan berarti saya langsung
pergi meninggalkan bioskop begitu saja, toh sebenarnya di awal-awal
“Crazy Love” masih mampu untuk membuat saya betah menikmati isi cerita,
walaupun sekali lagi agak terdistraksi oleh dunia sekolahnya yang
rada-rada sedikit ngawur. Kumbang (Adipati Dolken) dan gengnya, Daniel
(Herichan) Basuki (Zidni Adam) dan Abdu (Kemal Palevi) terkenal paling
bandel di sekolah. Tiap hari ada saja ulahnya, dari menyontek ketika
ujian sampai aksi bunuh diri bohongan Kumbang untuk mencari sensasi.
Ulah mereka selalu berakhir dengan hukuman, dijemur dilapangan. Tapi
hukuman-hukuman dari Pak Kepala Sekolah (Ray Sahetapy) tampaknya tidak
membuat Kumbang dan gengnya jera, akhirnya Pak Kepala Sekolah punya
inisiatif, ketimbang terus memberi hukuman, kenapa tidak mencari cara
lain agar “anak-anak kesayangannya” itu mau belajar. Lewat Olive
(Tatjana Saphira) sang murid teladan, gadis paling pintar sekaligus
cantik di sekolah—yang memang jadi incaran Kumbang dan
kawan-kawannya—Kepala Sekolah menugaskan Olive untuk mengajarkan
Kumbang, jadi semacam mentor. Kumbang pun bingung kok Olive yang sering
diganggunya tiba-tiba jadi baik dan perhatian, memberikannya secarik
kertas yang sayangnya memang bukan surat cinta melainkan berisi soal
untuk dikerjakan Kumbang. Awalnya, niat baik Olive direspon cuek oleh
Kumbang, soal-soal Olive dikerjakannya setengah hati. Lama-kelamaan,
dari hanya secarik kertas berisi soal-soal matematika, pertanyaan lain
muncul di hati , “apakah ini yang namanya jatuh cinta?”
Jika “La Tahzan” kemarin seperti film yang hampa chemistry, “Crazy Love” diakui cukup cermat dalam menghadirkan chemistry yang diperlukan, sutradara Guntur Soeharjanto (Tampan Tailor) mampu mengarahkan Adipati Dolken (Sang Kiai)
dan Tatjana Saphira (Get M4rried) untuk menciptakan ikatan yang asyik,
walau dikemas dalam situasi yang lagi-lagi klise. Paruh awal “Crazy
Love” yang banyak dihabiskan di sekolah benar-benar dimanfaatkan dengan
cukup baik oleh Guntur untuk mempersatukan karakter yang
bertolak-belakang. Pendekatannya film ini dalam hadirkan kisah asmara
remaja memang tak lagi baru, tapi Guntur mampu setidaknya menciptakan chemistry
yang apa adanya, tidak dilebih-lebihkan dan yang terpenting tidak
palsu. Didukung oleh akting cukup pas yang diperlihatkan oleh Adipati
Dolken dan Tatjana Saphira, “Crazy Love” saya akui sukses mencuri hati
pada paruh pertamanya, saya cukup menikmati ketika cinta mulai bersemi
antara Kumbang dan Olive yang katanya menyukai kupu-kupu tersebut.
“Crazy Love” yang memang dilabeli komedi romantis, tidak hanya soal
cinta-cintaan tapi juga menampilkan porsi lucu-lucuan, beberapa guyonan
ampuh membuat saya tertawa tapi sisanya sangat garing, mungkin tak cocok
saja dengan selera humor saya. Well setidaknya porsi komedi
tersebut masih bisa membuat paruh pertama film cukup bisa dibilang
menghibur…melompat ke paruh kedua, semua berubah.